MENU

Adakah Risiko Kanker pada Ikan Laut?

Memulihkan Kanker dengan Ganja, Perlukah Pengawasan Medis?

August 14, 2017 Comments (0) Views: 705 lifestyle, Terapi Kanker

Kontroversi Penggunaan Ganja untuk Terapi Kanker

Ditinjau oleh:
dr. Rony Wijaya
Medical Marketing – PT. Indocare Citrapasific

Sampai saat ini belum ditemukan terapi pengobatan kanker yang memberikan kepastian kesembuhan. Tidak heran seringkali terbersit di benak penderita kanker maupun orang-orang terdekatnya, untuk mencoba jenis terapi alternatif di luar terapi yang umum dilakukan. Dengan harapan mampu menyembuhkan kanker atau setidaknya memperpanjang umur atau angka harapan hidup.

Ada beberapa herbal yang diduga (walaupun masih kontroversi atau dalam perdebatan) memiliki kemampuan untuk membantu pasien kanker, salah satunya adalah ganja.

Penggunaan ganja sebagai terapi adalah hal yang kontradiktif dengan akal dan norma-norma yang ada. Karena yang kita ketahui secara umum daun ganja digunakan secara tidak bijak oleh manusia untuk mencari kenikmatan semu tanpa mempertimbangkan efek buruknya. Selain itu khasiat ganja untuk melawan kanker hingga saat ini memang masih simpang siur (belum pasti) bahkan beberapa sumber menyatakan bahwa ganja justru malah berpotensi menimbulkan penyakit kanker.

Persepsi bahwa ganja dapat membantu pemulihan kanker muncul berdasarkan temuan medis yang dipublikasikan dalam jurnal American Association for Cancer Research[1] yang menyatakan bahwa ganja memiliki senyawa kuat yang bernama tetrahydrocannabinol (THC). THC memiliki indikasi yang baik sebagai zat pembunuh sel kanker. Selain kandungan THC, para peneliti  kesehatan dari University of California–San Francisco juga turut mengklaim bahwasanya ganja mengandung cannabinoid yang memiliki fungsi membantu mengatasi gejala efek samping kemoterapi pada pasien kanker seperti rasa mual, nyeri pada tubuh, dan menurunnya nafsu makan[2].

Penolakan Penggunaan Ganja Sebagai Terapi Kanker

Walaupun ganja sempat diakui dapat membantu pemulihan kanker oleh National Cancer Institute (NCI) yang merupakan sebuah  badan utama pemerintah federal untuk penelitian dan pelatihan kanker di Amerika, penggunaan ganja justru lebih banyak ditentang oleh para pemerhati kesehatan. Karena senyawa yang terdapat dalam ganja memberikan efek halusinasi bagi penggunanya dan berisiko menimbulkan ketergantungan yang kuat.

Penolakan penggunaan ganja juga dilakukan oleh badan pengawasan obat di berbagai negara. Di Amerika, FDA (Food and Drug Administration) menolak penggunaan ganja karena efek halusinasi yang dapat meningkatkan angka kecelakaan lalu lintas atau membuat keresahan di ruang publik. Sedangkan di Indonesia, pelarangan penggunaan ganja diatur dalam UU Nomor 35 Tahun 2009 tentang narkotika.

Berlakunya larangan ini bukan berarti ada gerakan non-supportive dari pengobatan alternatif kanker, tetapi lebih ke arah kepada kebijakan preventif untuk mencegah penyalahgunaan ganja secara lebih luas. Selain itu ketatnya larangan penggunaan ganja juga didasarkan atas fungsi dan peran ganja sebagai obat penyembuhan kanker yang masih dalam tahap penelitian dan belum ada pernyataan resmi baik di Indonesia atau pun secara internasional yang menyatakan dan memastikan ganja mampu menyembuhkan penyakit kanker.

 Note: Artikel ini dibuat dan disusun berdasarkan literatur dan karya-karya tulis lain dan hanya dimaksudkan sebagai informasi atau pengetahuan populer bukan sebagai rujukan penggunaan zat tertentu sebagai terapi.

 Referensi jurnal:

[1]  Scott KA, Dalgleish AG, Liu WM. The combination of cannabidiol and Δ9-tetrahydrocannabinol enhances the anticancer effects of radiation in an orthotopic murine glioma model. Mol Cancer Ther. 2014;13(12);2955–67.
[2] Abrams DI. (2016). Integrating cannabis into clinical cancer care. Curr Oncol. 2016;23(S2):S8-S14.

Tags: , , , , , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *