MENU

Cara Melawan Kanker dengan Berolahraga

Tertawa Membantu Anda Melawan Kanker

Tertawa Membantu Anda Melawan Kanker

Mitos Kemoterapi

April 11, 2016 Comments Off on Mitos Seputar Kemoterapi Yang Terpatahkan Views: 4754 Artikel Kesehatan

Mitos Seputar Kemoterapi Yang Terpatahkan

Kemoterapi dianggap sebagai pengobatan kanker paling ampuh sekaligus menyeramkan. hingga menimbulkan mitos kemoterapi yang tidak sepenuhnya benar. Kemoterapi atau kemo adalah terapi pengobatan kanker dengan pemberian senyawa yang bersifat sitotoksik (memusnahkan) pada sel. Cara pengobatan kanker ini bisa dibilang termasuk yang paling ampuh dan sering digunakan di antara jenis pengobatan kanker lainnya.

Namun kemoterapi juga dikenal dengan efeknya yang tidak membuat nyaman. Tak jarang, kemoterapi dianggap sebagai pengobatan yang diandalkan namun juga ditakuti, hingga menimbulkan mitos-mitos tertentu yang justru lebih buruk dari kenyataannya.

Mitos Kemoterapi Yang Tidak Benar

Seiring berkembangnya teknologi kedokteran saat ini, pengobatan kemoterapi pun ikut mengalami perkembangan dan menjadi tidak seburuk yang Anda kira. Bahkan perkembangan itu sekaligus mematahkan mitos-mitos yang ada. Berikut ini adalah mitos-mitos tentang kemoterapi dan faktanya yang perlu Anda ketahui, dilansir dari Prevention.

Mitos Kemoterapi 1 – Pasti Membuat Anda Botak

Ketika orang-orang berpikir tentang kemo, hal yang paling diingat adalah kebotakan. Orang yang melakukan kemoterapi langsung dipersepsikan seolah-olah dia pasti akan mengalami kerontokan rambut hingga botak. Ini memang benar, namun hanya berlaku pada saat kemoterapi baru ditemukan.

Kini dengan kemajuan ilmu kedokteran, jenis dan dosis obat yang digunakan, pasien sangat mungkin untuk tidak mengalami kerontokan rambut yang sangat parah hingga menimbulkan kebotakan. Sebuah penelitian baru yang dikutip dari Prevention menemukan bahwa persentase pasien kemoterapi akan mengalami rambut rontok berkisar antara 15 hingga 60 persen tergantung pada jenis obat kemoterapi yang digunakan. Ini berarti bahwa kemungkinan terbaik seorang pasien kemoterapi dapat terhindar dari kebotakan mencapai hingga 85 persen.

Mitos Kemoterapi 2 – Anda Harus Rawat Inap di Rumah Sakit

Rawat inap lazimnya memang wajib dijalani pasien kemoterapi. Tapi itu dulu, sekarang telah berkembang teknologi baru pengobatan kanker dengan pil kemo. Pasien tinggal menelan pil tersebut layaknya obat biasa, tanpa harus menginap di rumah sakit. Pil kemo bekerja dengan menargetkan sel kanker untuk dibunuh, sekaligus mencoba membiarkan sel sehat lain.

Mitos Kemoterapi 3 – Membuat Berat Badan Anda Menurun

Menurut Don S. Dizon, MD dari Massachusetts General Hospital Cancer Center, meski pasien akan mengalami mual, muntah, dan diare yang dapat menyebabkan penurunan berat badan cukup drastis, beberapa pasien kemoterapi justru mengalami peningkatan berat badan setelah melakukan tindakan ‘counter’.

Tindakan ‘counter’ tersebut dilakukan dengan mengonsumsi obat golongan steroid yang dapat membuat berbagai efek samping kemoterapi tidak terlalu parah sekaligus meningkatkan nafsu makan dan mencegah pengeluaran cairan dari dalam tubuh. Dengan begitu, pasien justru berpeluang mengalami peningkatan berat badan.

Mitos Kemoterapi 4 – Anda Harus Berbaring di Atas Kasur Hingga Berbulan-bulan

Mitos ini terbukti salah, karena para dokter justru menganjurkan agar pasien kemoterapi melakukan olahraga semampunya untuk mengurangi efek samping pengobatan kanker ini. Menurut Dizon, salah satu cara terbaik untuk mengobati efek samping kemoterapi, seperti perubahan mood dan kelelahan, adalah dengan melakukan jalan kaki ringan atau latihan lain.

Namun sebelum melakukannya, pasien juga perlu mempertimbangkan apakah olahraga tertentu aman dan sesuai dengan kemampuan fisiknya. Biasanya pasien kemoterapi mampu berjalan 20 hingga 30 menit. Pasien juga dianjurkan untuk menaikkan porsi latihannya secara perlahan, demi mempercepat hilangnya efek samping kemoterapi.

Mitos Kemoterapi 5 – Menyakitkan

Sebagian besar proses kemoterapi dilakukan dengan memasukkan cairan obat melalui jarum infus. Banyak orang mengira penyuntikan obat ini akan terasa begitu sakit. Padahal, kemoterapi tidak lebih menyakitkan dari tes kolesterol yang menyedot darah.

Maksimal, kemoterapi mungkin menyebabkan mati rasa, kesemutan, atau nyeri pada kaki dan tangan, atau nyeri pada tulang. Kemungkinan itu pun sudah sepaket dengan solusinya. Pasien hanya tinggal menyampaikan keluhan  yang dirasa, selanjutnya dokter akan memberikan penanganan.

Tags: , , , , , , , , , , , , , , ,

Comments are closed.