MENU

Amankah Pasien Kanker untuk Hamil Kembali?

Cara Mudah Mendapatkan Imunitas Ekstra Untuk Menghadapi Kanker

July 27, 2017 Comments (0) Views: 1567 knowledge, Psikis dan Mental, Tentang Kanker

Penderita Kanker yang Hamil Bolehkah di Kemoterapi?

Ditinjau oleh:
dr. Rony Wijaya
Medical Marketing – PT. Indocare Citrapasific

Kondisi ibu hamil dan janinnya selalu menjadi prioritas, namun bagaimana jadinya jika sang ibu terdiagnosis kanker saat kehamilan sehingga membuatnya membutuhkan pengobatan kemoterapi untuk memulihkan kondisinya?

Kemoterapi diketahui sebagai senyawa toksik yang ditujukan untuk merusak pertumbuhan dan penyebaran sel kanker. Namun sayangnya senyawa ini belum mampu bekerja secara spesifik menyasar sel kanker, melainkan ikut merusak kondisi sel di sekitarnya. Hal inilah yang ditakutkan khususnya para ibu yang menderita kanker untuk melakukan kemoterapi saat mengandung bayi mereka.

Memang isu berbahayanya kemoterapi bagi janin pernah dibahas dalam dunia medis dan dikatakan bahwa terapi pengobatan kanker seperti kemoterapi dapat berpengaruh ke kesehatan janin dan berpotensi menyebabkan peningkatan risiko catat lahir. Namun seiring perkembangan waktu dan teknologi kini para tenaga medis sudah mengetahui solusinya agar para calon ibu yang mengidap kanker tetap bisa melakukan kemoterapi dengan risiko minim pada janinnya.

Solusi tersebut terdapat pada timing kapan sebaiknya pasien kanker yang sedang mengandung mendapatkan pengobatan kemoterapi. Berdasarkan penjelasan dr. Henry Naland, SpB(K) Onk. saat gelaran Soft Launching Chemo Center di RS Omni Pulomas, Jakarta, “Kalau dia butuh kemoterapi sebenarnya boleh saja, asal tidak di usia kandungan 3 bulan pertama atau trimester pertama. Kalau di bawah 3 bulan kan organ-organ janinnya sedang dibentuk, sebaiknya jangan dulu. Paling tidak kalau usia kandungannya di atas 20 pekan.”

Risiko Janin Terpapar Kemoterapi

Kemoterapi memang diketahui dapat berdampak buruk bagi sel sehat, dan tidak menutup kemungkinan menyerang janin yang dikandung oleh ibu yang sekaligus pengidap kanker. Penelitian terhadap risiko kemoterapi pun dilakukan untuk menemukan fakta dari kasus ini.

Penelitian yang dilakukan oleh Dr. Frederic Amant dari Leuven Cancer Institute di Belgia, yang melibatkan 70 bayi yang diteliti, dimana 68 bayi lahir secara normal dalam kurun waktu penelitian dan dimana dua pertiganya lahir secara prematur (sebelum usia 37 minggu).

Dari hasil pengamatan ini Amant menemukan bahwa tipe cacat lahir yang ditemukan pada anak-anak tersebut hampir sama dengan anak dari populasi umum (kelahiran bukan dari pasien kanker). Para peneliti juga tidak menemukan adanya kelainan jantung pada anak yang ibunya melakukan pengobatan kemoterapi.

Namun jika ada gangguan perkembangan kognitif pada anak, yang dapat diukur dari nilai IQ dan tes perilaku, umumnya gangguan tersebut masih tergolong normal. Biasanya anak yang memiliki IQ- rendah adalah anak yang memang lahir yang terlalu dini (premature).

Prediksi ini diduga berasal dari adanya lapisan plasenta yang melindungi bayi dari efek samping kemoterapi yang berlebihan. Hal ini dikemukakan oleh Dr. Richard Theriault, yang menemukan fenomena ibu mengalami kebotakan akibat efek samping kemo, tetapi bayi yang dilahirkannya penuh dengan rambut di kepalanya.

Namun, Dr. Amant tetap menekankan bahwa penelitian masih terbatas pada risiko jangka pendek, sehingga  perlu dilakukan juga penelitian untuk melihat efek jangka panjang pada anak yang terlahir dari ibu yang melakukan pengobatan kemoterapi. “Pada saat ini kita belum tahu apakah kemoterapi pada kehamilan berdampak jangka panjang, misalnya pada kesuburan anak atau risiko kanker di masa depan,” katanya.

Tags: , , , , , , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *