MENU

Tips Mengatasi Efek Samping Kemoterapi

Hati-hati Memilih Makanan Berpewarna

Hati-hati Memilih Makanan Berpewarna

December 15, 2016 Comments (0) Views: 1015 knowledge, lifestyle

Kanker dan Stres

Apa itu stres?
Stres menggambarkan apa yang orang rasakan ketika mereka berada di bawah tekanan mental, fisik, atau emosional. Meskipun stres termasuk gejala normal, orang-orang yang mengalami stres tingkat tinggi atau berulang kali selama jangka waktu yang panjang dapat mengalami masalah kesehatan (mental atau fisik).

Bagaimana tubuh merespon selama stres?
Tubuh merespon tekanan fisik, mental, atau emosional dengan melepaskan hormon stres (seperti epinephrine dan norepinephrine) yang meningkatkan tekanan darah, detak jantung, dan kadar gula darah. Perubahan ini membantu seseorang bertindak dengan kekuatan yang lebih besar dan cepat untuk melarikan diri dari ancaman yang dirasakan.

Penelitian telah menunjukkan bahwa orang yang mengalami stres secara terus-menerus dalam jangka panjang dapat memiliki masalah pencernaan, masalah kesuburan, masalah kencing, dan sistem kekebalan tubuh yang lemah. Orang yang mengalami stres dalam jangka panjang atau kronis juga lebih rentan terhadap infeksi virus seperti flu atau pilek, sakit kepala, gangguan tidur, depresi, dan kecemasan.

Bisakah stres menyebabkan kanker?
Stres memang dapat menyebabkan sejumlah masalah kesehatan fisik. Namun untuk bisa dibilang menyebabkan kanker, stres tidak memiliki bukti yang kuat. Beberapa penelitian telah menunjukkan hubungan antara berbagai faktor psikologis dan peningkatan risiko berkembangnya kanker, namun sebagian penelitian lainnya tidak.

Hubungan yang jelas antara stres dan kanker bisa muncul secara tidak langsung. Misalnya, orang di bawah tekanan stres akan mungkin membiasakan perilaku tidak sehat seperti merokok, makan berlebihan, atau minum alkohol. Kebiasaan itulah yang meningkatkan risiko seseorang terkena kanker.

Bagaimana stres psikologis mempengaruhi orang-orang yang memiliki kanker?
Bukti dari studi eksperimental menunjukkan bahwa stres dapat memengaruhi kemampuan tumor untuk tumbuh dan menyebar. Sebagai contoh, beberapa studi telah menunjukkan bahwa mencit pengidap tumor yang dibuat stres dengan mengisolasinya dari mencit lainnya memiliki kemungkinan lebih tinggi bagi tumornya untuk berkembang dan menyebar. Studi pada mencit dan sel kanker manusia yang dikembangbiakkan di laboratorium juga menemukan bahwa hormon stres norepinefrin, bagian dari sistem respon fight-or-flight tubuh, dapat memicu angiogenesis (pembentukan pembuluh darah baru dari pembuluh darah yang telah ada untuk memberi asupan nutrisi bagi sel kanker) dan metastasis (penyebaran sel kanker ke jaringan atau organ lain).

Meskipun masih belum ada bukti kuat bahwa stres secara langsung mempengaruhi hasil kanker, beberapa data menunjukkan bahwa pasien dapat merasa tidak berdaya atau putus asa ketika mengalami stres yang luar biasa. Respon stres ini dihubung-hubungkan dengan tingkat kematian yang lebih tinggi, meskipun mekanisme untuk hasil ini tidak jelas. Para pasien kanker yang merasa tidak berdaya atau putus asa akan memiliki kecenderungan untuk tidak mencari pengobatan ketika mereka menderita kanker, menyerah sebelum waktunya, terlibat dalam perilaku berisiko seperti penggunaan narkoba, atau tidak mempertahankan gaya hidup sehat, sehingga dapat meningkatkan risiko mereka harus menghadapi kematian dini.

Yang terpenting, pasien kanker harus pintar-pintar mengelola stres akibat kanker yang dideritanya. Jangan sampai pikiran negatif memberatkan kondisi tubuh pasien hingga melemahkannya. Sementara itu, kerabat pasien pun harus memberi support moral kepada mereka.

Sumber:
National Cancer Institute

Tags: , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *